Rabu, 19 November 2014

AYAH

Negeri Tanpa Ayah

Ust Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri)

1. Jika memiliki anak sudah mengaku-ngaku menjadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola. AYAH itu gelar untuk lelaki yang mau dan pandai mengasuh anak, bukan sekedar ‘membuat’ anak. Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi.

2. AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja. Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yang tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah. Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?

3. Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari ‘Umar bin Khattab (radhiyallahu ‘anhu). AYAH durhaka bukan yang bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yang menuntut anaknya shalih dan shalihah, namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya. AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya. AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya.

4. Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country. Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama?

4. Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi. Banyak anak yang sudah merasa yatim sebelum waktunya, sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya.

5. Semangat Quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita mengenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imran. Mereka adalah contoh AYAH yang peduli. Ibnul Qayyim dalam kitab Tuhfatul Maudud berkata,

"Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH."

6. Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yang merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak.

7. Rasulullah yang mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAH-nya. Tetapi nilai-nilai ke-AYAH-an tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya. Nabi Ibrahim adalah AYAH yang super sibuk, jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi. Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.

8. Di dalam Quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan, dimana 14 diantaranya yaitu dialog antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut.

9. Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid. Harus ada sosok AYAH yang mau menjadi guru TK dan TPA, agar anak kita belajar kisah ‘Umar yang tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yang berkisah, tapi AYAH-lah.

10. AYAH pengasuh harus hadir di masjid, agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was-was atau merasa terancam dengan hardikan. Jadikan anak terhormat di masjid, agar ia menjadi generasi masjid, dan AYAH-lah yang membantunya merasa nyaman di masjid.

11. Ibu memang madrasah pertama seorang anak, tetapi AYAH yang menjadi kepala sekolahnya. AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya. Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH ‘kepala sekolah’ tapi AYAH ‘penjaga sekolah’

12. Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan keduanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan IBU-nya. Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak. Jika ibu tak ada, anak menjadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika.

13. AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yang tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yang peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama. Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yang lengkap.

Dari sebuah grup WA Alumni SMP Sawel kelas 3A

Selasa, 18 November 2014

Di surau itu

“‘amma yaa tatsa’alun…’aninnaba’il adzim…”
“innaladzinakafaru sawaaun’alaihim…”
“iqrobismirrobikalladzikholaq…”
Sayup-sayup merdu ayatnya menabuh gendang telingaku. Membuatku terjaga. Subhanalloh…suara itu terdengar saling bersaut di sudut-sudut surau. Aku yang menyengaja tidur di surau itu terbangun dengan malu. Syukur saat itu taka da satu pun pelita yang dinyalakan.
Bergegas aku bangkit. Mengais kesadaran yang sebagiannya masih tertelan mimpi. “Allohu Akbar” batinku. Berusaha sekuat tenaga melepas diri dari ikat-ikat syaitan.
“allahmdulillahi ahyana ba’dama ‘amaatanaa waillaihinnushur…” terbisik lirih penuh syukur.
Ku ambl air wudhu yang sesejuk embun itu. Lantas bergegas menyusul saudara-saudaraku yang tengah khusyuk dalam sujud dan ruku’nya.
Empat dan tiga rakaat telah terakhiri dengan salam. Saatnya berbincang mesra dalam lantunan doa.
“Yaa Rabbi…”
***
Bayang itu tetiba saja lekat dalam ingatan. Menyesaki ingatan dan menlukis rindu dalam hati. Di sudut surau itu masih terngiang suara-suara lantunan ayat dan dzikir padaNYA. Dalam ruku dan sujud qiyamul lailmu, dalam shof-shof subuh yang senantiasa rapat dan dalam senyum sambil melantunkan dzikir pagi berbarengan. Kau, begitu merdu membangunkanku dengan ayat-ayatNYA. Membelai mesra iman hingga ia hidup dan menggelora. Dalam rumah dan surau penuh cinta, pesantren Basmala.

BBM Naik

Secara pribadi aku mencoba bersabar, lebih memilih  mengencangkan ikat pinggang daripada turun ke jalan. Namun kemana nurani hendak disembunyikan? Melihat neraca saudara di sekeliling tampak semakin timpang. Penghasilan yang hanya 500.000 per bulan semakin jauh dari sekedar menghilangkan lapar. Belum lagi listrik, harga-harga bahkan toilet umum pun bakal senada. Membumbung merdu seirama dalam "naiknya harga BBM"

"Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan

Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan

Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa"

Iwan Fals, Manusia Setengah Dewa

Sabtu, 01 November 2014

Sepinya Surau Kini

Dulu...ia begitu ramai
Penuh sesak dengan orang-orang yang merindu
Terbaris rapi orang-orang penuh cinta
Terlandun syahdu ayat-ayatNYA

Dulu...semua berebut menyeru
Memanggil orang yang penuh rindu
Terbaris satu-satu
Dengan tertunduk, khusyuk

Namun kini...
Shof itu perlahan maju
Meninggalkan ruang kosong satu-satu
Berganti senyap tak tentu

Entah kemana para pemuda
Yang dulu gemar menyeru
Mengajak kembali pada Yang Satu
Adakah mereka telah terganti?
Dengan generasi yang tak peduli
Yang hanya mementingkan ego diri
Daripada seruan Illahi?

*ditulis karena miris, melihat surau di gang mangga. dekat kos binaan yang pernah kutempati semasa kuliah